Sabtu, 21 Mei 2016

[ Jelang Ramadhan ] Sesungguhnya Bersama Kesulitan Ada Kemudahan ..

Al Insyirah (94) : “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (5). Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (6)

Berbicara tentang masalah memang sangat sulit, namun tergantung dari manusia yang menjalani, serta dalam menyelesaikannya, beragam masalah silih berganti yang datang dihadapi setiap manusia, ada yang punya masalah dalam bidang finansial, masalah keluarga, teman dan sebagainya.  Bahkan sampai rumitnya masalah kita menjadi putus asa dalam menjalani kehidupan, sampai terkadang ada yang mencoba ingin mengakhiri hidup mereka dengan mati bunuh diri!
Sering kali diantara kita, sering lupa bahwa ujian itu datangnya dari Allah dan hanya Allah yang akan memberikan jalan keluarnya, bahkan Allah sudah meyakinkannya lewat Al Qur’an di dua ayat 5 dan 6 

surat Al Insyirah (94): “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (5). Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (6).”

Allah sampai mengulang dua kali ayat tersebut, hal ini merupakan sebuah penegasan akan janji Nya,  maka janganlah kita ragu  akan setiap janji Allah.

Dalam menghadapi setiap kesulitan yang diberikan kita tidak lantas hanya menanti berdiam diri dan menanti hingga datangnya kemudahan yang dijanjikan itu. akan tetapi ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam masa penantian tersebut, yaitu sebagai berikut:



Niat & Ikhtiar

“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (QS: Ar Ra’d 13:11)

Sebelum kita memulai Usaha, kita harus memiliki Niat terlebih dahulu, untuk siapa dan untuk apa tujuan kita melakukan usaha tsb. Setiap dalam melakukan Usaha, sedikitnya pasti akan mengalami Kesulitan, tetapi atas dasar adanya niat dalam diri kita.itulah yang membuat diri kita sanggup melewati kesulitan tersebut. Kesulitan yang dialami adalah atas dasar kehendak Allah, untuk itu hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan dan hanya kepada Allahlah kita bisa memohon dimudahkan dengan cara berdoa.

Allah juga berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS: Gafir 40:60)

 

Sholat & Doa

Sholat adalah bentuk ibadah dimana setiap gerakan dan bacaannya adalah doa.Sholat juga sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT, sebagai bentuk komunikasi yang tercipta antara Hamba dengan Penciptanya, dalam sholat kita bisa curhat, menceritakan setiap keluh kesah yang ada. Tapi jangan hanya saat kesulitan saja mengerjakan sholat, dalam keadaan apapun sholat wajib dikerjakan, bahkan kalau bisa ditambah dengan sholatsholat sunnah, karena sesungguhnya sholat adalah tiang agama, jika tiangnya kokoh maka bangunan ibadah lainnya semoga ikut baik.

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan sholat itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS: Al Baqarah 2:45)

Ikhlas 

Relakanlah apa yg harus direlakan , karena semua itu datangnya dari Allah maka cepat atau lambat semua itu akan kembali kepada Nya.

Sabar

Dengan adanya rasa Ikhlas dihati, maka semakin kuatlah rasa sabar di dalam diri kita dalam menghadapi masalah td. walau seberat apapun masalah yg di hadapi insya Allah akan terasa biasa saja.

“Dan bersabarlah (Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika engkau bangun,(48) dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya dan (juga) pada terbenamnya bintang-bintang (pada waktu fajar).” (49) (QS At Tur 52:48-49)

Tawakal

Tawakal adalah berserah diri kepada Allah. Setelah melakukan usaha sebaik dan semaksimal mungkin, karena hanya Allahlah yang akan memberikan hasil terbaik dari setiap ikhtiar  yang dibarengi dengan doa, sabar dan sholat.

“Jika Allah menolong kamu, maka tidsak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu selain itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS: Al Imran 3:160).


Sekian & Terimakasih

Minggu, 15 Mei 2016

Ramadhan Bertabur Berkah




Mengisi Sya’ban Menyongsong Ramadhan


Puasa merupakan ibadah paling penting bagi Ramadhan. Karenanya, ketika berada di gerbangnya, ibadah ini menjadi paling utama dan sering dilakukan oleh Rasulullah saw. “Rasulullah saw berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada bulan Sya’ban,” kenang Aisyah sebagaimana diriwayatkan Bukhari (No 1833) dan Muslim (No 1956). Bahkan, dalam riwayat Muslim disebutkan, beliau saw berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya. Sedikit sekali beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban.

Maksudnya, Rasulullah saw amat sering berpuasa di hari-hari Sya’ban, tapi tidak berpuasa seluruhnya sebagaimana di bulan Ramadhan. Ibnul Mubarak menegaskan, Nabi saw tidak pernah menyempurnakan puasa Sya’ban tapi banyak berpuasa. Pendapat ini didukung oleh riwayat Muslim dari Aisyah, “Saya tidak mengetahui beliau saw puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan.” 


Dalam riwayat Muslim yang lain, Aisyah menceritakan, “Saya tidak pernah melihat beliau puasa sebulan penuh sejak menetap di Madinah, kecuali bulan Ramadhan.” Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Ibnu Abbas berkata, “Tidaklah Rasulullah saw berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan,” (HR Bukhari No. 1971 dan Muslim No.1157).

Puasa Wajib terbagi menjadi 4, yaitu:

1. Puasa Ramadhan
2. Puasa mengganti hari Ramadhan
3. Puasa Kaffarah
4. Puasa Nadzar

Berikut ini adalah penjelasan sebagian poin tersebut:

1. Puasa Ramadhan

Telah jelas dipahami.

2. Mengganti puasa Ramadhan

Dihari lain bagi orang sakit, musafir, ibu hamil dan menyusui yang lemah tidak mampu berpuasa, wanita yang haid dan nifas.

Seseorang yang sudah berniat kuat untuk melakukan puasa pengganti bagi hari-hari Ramadhan yang ditinggalkannya, dan sedang melaksanakannya, janganlah membatalkan puasanya kecuali karena udzur syar’i. Puasa pengganti bagi Ramadhan hukumnya adalah wajib.

Pada saat Fathu Makkah, Nabi pernah menawarkan segelas susu kepada Ummu Hani’. Kemudian Ummu Hani’ meminumnya. Setelah minum, Ummu Hani’ berkata: Wahai Rasulullah, aku telah membatalkan puasa. Aku sebelumnya berpuasa. Rasul bertanya:

أكُنْتِ تقضينَ شيئاً

Apakah engkau mengganti suatu hari (dari Ramadhan)?

Ummu Hani’ menjawab: Tidak. Nabi bersabda:

فَلاَ يَضُرُّكِ إِنْ كَانَ تَطَوُّعًا

Tidak memudharatkanmu (tidak mengapa) jika itu adalah puasa sunnah. (H.R Abu Dawud no 2456. Al-Iraqy menyatakan bahwa sanadnya hasan, dan dishahihkan al-Albany).

Hal yang dipahami dari hadits ini adalah: kalau seandainya Ummu Hani’ tidak berpuasa sunnah, niscaya hal itu terlarang baginya.  

Karena itu, bagi seseorang yang sudah berniat sebelum Subuh untuk berpuasa mengganti puasa Ramadhan, kemudian ia sudah menjalani beberapa waktu dari puasanya, misalkan sudah sampai tengah hari. Jika selanjutnya ada undangan makan, atau hal-hal semisalnya, janganlah ia batalkan puasanya tersebut. Karena puasa yang ia lakukan adalah puasa wajib, bukan puasa Sunnah. Janganlah membatalkannya kecuali ada udzur syar’i.

Seseorang tidak bisa beralasan, ‘kan saya bisa mengganti besoknya?’. Hal itu tidak diperbolehkan berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud tentang kisah Ummu Hani’ di atas.

3. Puasa kaffaroh 

Puasa yang dilakukan karena melakukan suatu perbuatan tertentu. Akibat dari melakukan perbuatan itu adalah harus berpuasa dalam sejumlah hari tertentu.

Contohnya:

a. Melanggar sumpah.

Seseorang bersumpah untuk berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu, namun tidak jadi dia lakukakan. Maka, ia harus membayar kaffaroh sumpah.

Berpuasa 3 hari sebagai puasa kaffaroh jika tidak bisa memberi makan 10 orang miskin, atau memberi pakaian 10 orang miskin, atau memerdekakan budak (Q.S al-Maidah:89)

b. Dzhihar

sebagaimana dalam surat al-Mujaadilah ayat 3-4

c. Membunuh mukmin atau kafir yang dilindungi (dzimmi atau Mu’ahad) tanpa sengaja.

Kaffarahnya adalah memerdekakan budak mukmin. Namun, jika tidak bisa mendapatkan budak mukmin untuk dimerdekakan, maka berpuasa 2 bulan berturut-turut (Q.S anNisaa’:92).

d. Berhubungan suami istri di siang bulan Ramadhan 

Padahal wajib baginya berpuasa Ramadhan.

e. Terkait Ihram 

Seperti mencukur rambut karena sakit di kepala atau tidak mampu menyembelih al-hadyu. Demikian juga berburu pada saat Ihram.

4. Puasa Nadzar

Seorang mewajibkan untuk dirinya sendiri berpuasa, baik karena adanya sebab atau tanpa adanya sebab.

Semua bentuk puasa wajib ini membutuhkan niat (menginapkan niat) di malam hari sebelumnya. Jika seseorang akan puasa wajib, maka ia harus berniat puasa wajib itu pada sebelum masuk waktu Subuh hari tersebut.

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Barangsiapa yang tidak menginapkan niat berpuasa (wajib) sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaa’i, lafadz sesuai riwayat anNasaai. Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Albany).

Berbeda dengan puasa sunnah, tidak mengharuskan menginapkan niat di waktu malam sebelumnya. Boleh saja seseorang yang belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar, kemudian agak siang dia baru berniat puasa sunnah.

Seperti yang pernah terjadi pada Nabi shollallahu alaihi wasallam.

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ

"Dari Aisyah ibunda orang-orang beriman, beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam masuk ke (tempat)ku pada suatu hari kemudian beliau bertanya: Apakah kalian memiliki sesuatu (makanan)? Kami berkata: Tidak. Nabi menyatakan: kalau begitu aku puasa" (H.R Muslim)

Tidak mengapa baru berniat meski sudah lewat tengah hari, seperti yang pernah dilakukan Sahabat Nabi Hudzaifah bin al-Yaman (diriwayatkan oleh Abdurrozzaq dan Ibnu Abi Syaibah).