Selasa, 18 April 2017

Beberapa Perkara Yang Dapat Mengeluarkan Seorang Muslim Dari Agamanya

Dalam satu risalah ringkas yang berjudul Nawaqidhul Islam, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu ta’ala menyebutkan,

Ketahuilah, pembatal-pembatal keislaman itu ada sepuluh :

Pertama, syirik dalam beribadah kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa di bawah syirik bagi siapa yang dikehendakiNya.” (QS. An Nisa’: 116)

Dan Allah juga berfirman,
إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya yang menyekutukan Allah, maka Allah pasti akan mengharamkan Surga untuknya dan tempatnya nanti adalah di Neraka. Dan tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. Al Ma-idah: 72)

Di antaranya adalah menyembelih untuk selain Allah, seperti seseorang yang menyembelih untuk jin atau kuburan.

Kedua, siapa saja yang menjadikan antara dirinya dan Allah perantara-perantara tempat ia berdoa dan meminta syafaat serta bertawakkal kepada perantara-perantara itu, maka ia kafir secara ijma’.

Ketiga, siapa saja yang tidak mengafirkan orang-orang musyrik, sangsi dengan kekafiran mereka atau membenarkan mazhab mereka, maka ia kafir.

Keempat, siapa saja yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sempurna dari petunjuk nabi atau ada hukum yang lebih baik dari hukum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—seperti lebih mengutamakan hukum-hukum para thaghut daripada hukum beliau, maka ia telah kafir.

Kelima, siapa saja yang membenci sesuatu yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—meskipun ia mengamalkannya, maka ia pasti kafir.

Keenam, siapa saja yang mengolok-olok sesuatu dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, balasan Allah, azab Allah, maka ia kafir. Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Tidak usah kalian cari-cari alasan, karena kalian telah kafir sesudah beriman.” (QS. At Taubah: 66)

Ketujuh, sihir. Dan termasuk darinya adalah sihir yang memisahkan dua orang yang mencntai dan sihir yang mengeratkan dua orang yang saling membenci. Siapa saja yang mengerjakannya atau ridho dengan hal itu, maka ia telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ

“dan keduanya [Harut dan Marut] tidak mengajarkan [sesuatu] kepada siapa pun hingga mereka berdua mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah fitnah [cobaan]. Karena itu, janganlah engkau kafir’.” (QS. Al Baqarah: 102)

Kedelapan, membela dan menolong orang-orang musyrik dalam memerangi kaum muslimin. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Siapa saja di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Ma-idah: 51)

Kesembilan, siapa saja yang meyakini bahwa sebagian orang dibolehkan tidak terikat dengan syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Nabi Khadir ‘alaihis salam yang tidak terikat dengan syariat Nabi Musa ‘alaihis salam, maka ia adalah kafir.

Kesepuluh, berpaling dari agama Allah ta’ala—tidak mempelajarinya dan tidak beramal dengannya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zalim dari seseorang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, lalu ia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan membalas orang-orang yang berdosa.” (QS. As Sajdah: 22)

Terkait pembatal-pembatal keislaman tersebut, tidak ada beda antara [melakukannya dengan] bercanda, bersungguh-sungguh atau [karena] takut. Kecuali, [karena] dipaksa. Masing-masing pembatal tersebut adalah yang paling besar bahayanya dan paling banyak terjadi.

Karena itu, sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk berhati-hati dan takut terjadi pada dirinya. Kita berlindung kepada Allah dari apa-apa yang membuatNya murka dan azabNya yang sangat pedih.

و صلّى اللهُ على خير خلقه محمد و آله وصحبه وسلّم .

Pembeda Antara Orang Mukmin Dan Orang Munafik

Datang ayat-ayat yang banyak dan hadits-hadits yang terkenal tentang anjuran untuk berdakwah, penjelasan tentang kewajibannya, dan pahala bagi orang yang berdakwah. Ayat-ayat Al Qur-an tentang berdakwah lebih banyak dari ayat-ayat tentang shaum dan haji yang keduanya ini adalah dua rukun dari rukun-rukun Islam yang lima. Karena itu, berdakwah termasuk kewajiban yang paling agung dalam syariat yang suci ini dan pokok dari pokok-pokok agama. Dengan berdakwah, aturan syariat menjadi sempurna dan urusan agama menjadi tinggi serta Allah subhanahu wa ta’ala jadikan  amar ma’ruf nahi mungkar sebagai pembeda antara orang-orang mukmin dan orang-orang munafik, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ

“Orang-orang munafik yang laki-laki dan yang perempuan sebagian mereka penolong sebagian yang lain. Mereka mengajak kepada kemungkaran dan melarang dari kebaikan.” (QS. At Taubah: 67)

Kemudian, Allah berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ

“Laki-laki dan perempuan-perempuan yang mukmin sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.” (QS. At Taubah: 71)

Maka, Allah menunjukkan bahwa sifat-sifat yang paling khusus dari orang mukmin adalah amar ma’ruf nahi mungkar dan pokok perkaranya adalah berdakwah.

Amar ma’ruf nahi mungkar telah menjadi kewajiban di tengah umat-umat terdahulu, sebagaimana yang Allah ta’ala berfirman,

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ كَانُواْ لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ

“Telah dilaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Isra-il lewat lisan Dawud dan Isa bin Maryam. Ini karena mereka bermaksiat dan adalah mereka yang sering melampaui batas. Mereka itu tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka perbuat. Betul-betul jahat apa yang telah mereka lakukan itu.” (QS. Al Ma-idah: 79)

Maksudnya, sebagian mereka tidak melarang sebagian yang lain dari melakukan dosa-dosa dan keharaman-keharaman. Lalu, Allah cela mereka atas hal tersebut untuk memperingatkan [kita] dari melakukan perbuatan mereka itu. Karena itu, Allah berfirman,

لَبِئْسَ مَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ
“Betul-betul jahat apa yang telah mereka lakukan itu.”

Allah gunakan penegasan dengan menggunakan huruf “lam untuk bersumpah” sebagai bentuk perendahan atas sifat mereka itu dan peringatan dari keburukan perbuatan mereka.

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang sifat nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ
“Ia menyuruh mereka berbuat kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran serta menghalalkan untuk mereka apa-apa yang baik dan mengharamkan atas mereka apa-apa yang buruk” (QS. Al A’raf: 157) adalah keterangan tentang sempurnanya risalah beliau. Sebab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang melalui lisannya Allah perintahkan segala yang baik, Allah larang segala kemungkaran, Allah halalkan segala yang baik, dan Allah haramkan segala yang jelek.

Demikian pula Allah sifatkan umat Islam dengan apa yang disifatkan oleh nabi mereka ketika Allah berfirman,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ
“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan kepada manusia. Kalian menyuruh berbuat kebaikan, melarang berbuat kemungkaran, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kalian adalah sebaik-baik manusia untuk manusia. Kalian datangkan orang-orang tertawan dan terikat sampai atas sebab kalian mereka masuk Surga.”

Tanda-Tanda Kebahagiaan Dan Tanda-Tanda Kesengsaraan Pada Seorang Muslim

Termasuk tanda-tanda kebahagiaan dan keberhasilan adalah ketika seorang hamba bertambah ilmunya bertambah pula tawadhu‘ dan kasih-sayangnya, ketika ia bertambah amalnya bertambah pula rasa takutnya kepada Allah dan kehati-hatiannya, ketika ia bertambah umurnya berkurang pula rakusnya [kepada dunia], ketika ia bertambah hartanya bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya, dan ketika ia bertambah kekuasaan dan kedudukannya bertambah pula kedekatannya dengan manusia dan kesediaannya menolong orang-orang serta tawadhu‘-nya kepada mereka.

Termasuk tanda-tanda kesengsaraan adalah ketika seseorang bertambah ilmunya bertambah pula ketakaburan dan kesombongannya; ketika ia bertambah amalnya bertambah pula keangkuhannya, sikap meremehkan manusia dan selalu menganggap baik dirinya; ketika ia bertambah umurnya bertambah pula ketamakannya [kepada dunia]; ketika ia bertambah hartanya bertambah pula kerakusan dan keengganannya untuk berbagi harta; dan ketika ia bertambah kekuasaan dan kedudukannya bertambah pula ketakaburan dan kesombongannya.

Itulah cobaan dan ujian dari Allah yang dengan semua itu Allah uji hamba-hambaNya, sehingga sejumlah orang berbahagia dengannya dan sebagian lain merana karenanya. Demikian pula kemuliaan-kemuliaan yang menjadi cobaan dan ujian, seperti kekuasaan, kerajaan, dan harta-benda. Tentang nabiNya, Sulaiman ‘alaihis salam, ketika beliau melihat singgasana Ratu Balqis di istana beliau, Allah ta’ala berfirman,

ُهَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُر

“Ini [semua] keutamaan dari Rabbku untuk mengujiku, ‘Apakah aku bersyukur ataukah aku kufur?’.” (QS. An Naml: 40)

Karena itu, kenikmatan-kenikmatan adalah cobaan dan ujian dari Allah. Terlihat dengannya syukur orang yang bersyukur dan kekufuran orang yang kufur, sebagaimana ujian-ujian adalah musibah-musibah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dialah yang menguji dengan berbagai kenikmatan, sebagaimana menguji dengan berbagai musibah. Allah ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْأِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ . كَلا

“Adapun manusia, jika Rabbnya mengujinya dengan memuliakan dan memberinya kenikmatan, maka ia akan mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakanku’. Adapun jika mengujinya dengan menyempitkan rejekinya, maka ia mengatakan, ‘Rabbku telah menghinakanku’. Sekali-kali tidak.” (QS. Al Fajr: 15-17)

Maksudnya, tidak setiap yang Aku lapangkan rejekinya, Aku muliakan, dan Aku beri kenikmatan itu adalah bentuk pemuliaan dariKu untuknya. Dan juga tidak setiap yang Aku sempitkan rejekinya dan Aku coba ia itu adalah bentuk penghinaan dariKu.

Hendaknya Seorang Muslim Itu Menjaga Setiap Ucapannya di Lisan Maupun Di Tulisan

Dalam tulisan ringkas berjudul Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al ‘Abbad Al Badr hafizhahullahu ta’ala membawakan kepada kita sejumlah dalil tentang menjaga ucapan, baik secara lisan ataupun tulisan. Beliau berkata,

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً .
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki untuk kalian amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Siapa saja menaati Allah dan rasulNya, maka sungguh ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab: 70-71)

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Wahai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka. Sebab sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari keburukan orang dan jangan pula menggunjing satu sama lain. Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, pastilah kalian merasa jijik melakukannya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu maha penerima tobat lagi maha penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ . إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ . مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ .

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Yaitu, ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya. Seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 16-18)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَاناً وَإِثْماً مُّبِيناً


“Dan orang-orang yang menyakiti kaum mukminin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka itu telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 58)

Dalam Shahih Muslim (hadits nomor 2589), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ


“Kalian tahu apa itu ghibah?”. Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan tentang saudaramu dengan apa yang ia tidak sukai.” Ada yang bertanya, “Bagaimana jika itu [memang] ada pada saudaraku?”. Beliau menjawab, “Jika itu ada pada saudaramu, maka engkau telah meng-ghibah-nya. Jika tidak ada, maka engkau telah memfitnahnya.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (QS. Al Isra’: 36)

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا، وَلَا تَفَرَّقُوا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ، قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السؤال، وإضاعة المال


‘Sesungguhnya, Allah ridho untuk kalian tiga perkara dan membenci tiga perkara. Allah ridho kalian menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan apapun, kalian semua berpegang dengan tali Allah, dan kalian tidak bepecah-belah. Allah membenci atas kalian qila wa qala [katanya dan katanya], banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta’.” [HR. Muslim nomor 1715]

Tiga perkara yang tidak disukai Allah itu juga datang dalam hadits Al Mughirah bin Syu’bah riwayat Imam Al Bukhari (hadits nomor 2408) dan Imam Muslim.

Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ


“Setiap anak Adam telah ditulis baginya bagian dari zina. Ia pasti melakukannya tanpa bisa menghindarinya. Maka, zina mata adalah memandang. Zina telinga adalah mendengar. Zina lisan adalah berbicara. Zina tangan adalah meraba. Zina kaki adalah melangkah. Sementara jiwa berharap dan berhasrat. Kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya.”  [HR. Al Bukhari nomor 6612 dan Muslim nomor 2657, lafaz hadits ini milik Imam Muslim]

Dalam Shahihnya (hadits nomor 10), Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Muslim itu adalah yang selamat kaum muslimin dari lisan dan tangannya.”

Imam Muslim meriwayatkan hadits itu dalam Shahihnya (hadits 64) dan lafaznya,

“Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Muslim mana yang paling baik?’. Rasulullah menjawab,

مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Siapa saja yang selamat kaum muslimin dari lisan dan tangannya.”

Imam Muslim juga meriwayakannya dari Jabir (hadits nomor 65) dengan lafaz hadits Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash yang diriwayatkan Imam Al Bukhari.

Dalam penjelasan terhadap hadits tersebut, Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan,

“Dan hadits ini hukumnya umum pada lisan, tidak pada tangan. Sebab lisan dapat memungkinkan ia mengucapkan yang terdahulu, yang sekarang, dan yang akan datang. Berbeda dengan tangan. Ya, mungkin bagi lisan untuk berserikat [dalam] maksiat dengan tangan. Contohnya dalam tulisan. Dalam hal tersebut, pengaruhnya betul-betul besar.”Terkait makna seperti itu, seorang penyair mengatakan, "Aku menulis dan meyakini pada hari kutulis itu bahwa tanganku dapat lenyap sedangkan tulisan tanganku kekal". Jika aku tahu kebaikan, niscaya akan dibalas dengan semisalnya. Dan jika aku tahu keburukan, bagiku ganjarannya.

Muslim Yang Baik Itu Bersikap Lemah-Lembut Dan Santun

Dalam Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al ‘Abbad Al Badr hafizhahullahu ta’ala menyebutkan beberapa nash penting tentang harusnya seorang muslim memiliki sifat lembut dan santun. Beliau mengatakan,

Allah menyifati nabiNya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, memiliki akhlak yang agung. Allah berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau betul-betul di atas akhlak yang agung.” (QS. Al Qalam: 4)

Allah menyifati beliau dengan kesantunan dan kelembutan. Allah berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka, dengan rahmat dari Allah-lah engkau bersikap lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Dan Allah ta’ala juga menyifati beliau dengan kasih dan sayang terhadap kaum mukminin. Allah berfirman,

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sungguh, telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan [keimanan] untuk kalian, amat pengasih lagi penyayang terhadap kaum mukminin.” (QS. At Taubah: 128)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh dan mendorong untuk berlemah-lembut, Beliau bersabda,

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا ، وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا
“Permudah dan jangan persulit. Berikan kabar gembira dan jangan membuat lari manusia.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (hadits nomor 69) dan Imam Muslim (hadits nomor 1734) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Imam Muslim meriwayatkan juga (hadits nomor 1732) dari Abu Musa [Al Asy’ari] radhiyallahu ‘anhu dan lafalnya,

وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا ، يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا

“Berikan kabar gembira dan jangan buat manusia lari. Permudah dan jangan persulit.”

Dan dalam Shahih Al Bukhari (hadits nomor 220), Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat beliau dalam kisah seorang Arab badui yang kencing di masjid,

دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ
“Biarkan ia. Siram kencingnya itu dengan setimba air atau seember air. Sebab, sesungguhnya, kalian itu diutus untuk memudahkan. Bukan untuk menyulitkan.”

Imam Al Bukhari meriwayatkan (hadits nomor 6927) dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ
“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu maha lembut dan mencintai kelembutan di semua perkara.”

Dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadits tersebut (hadits nomor 2593) dengan lafal,

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu maha lembut dan mencintai kelembutan. Dan Allah memberikan ke dalam kelembutan apa yang tidak diberikan ke dalam sikap kasar serta apa yang tidak diberikan kepada selainnya.”

Imam Muslim dalam Shahih Muslim (hadits nomor 2594) meriwayatkan hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلا زَانَهُ ، وَلا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلا شَانَهُ
“Sesungguhnya, kelembutan itu tidaklah terdapat pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya. Dan tidaklah dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya.”

Imam Muslim juga meriwayatkan (hadits nomor 2592) dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ
“Siapa saja yang dijauhkan dari kelemah-lembutan, maka ia dijauhkan pula dari kebaikan.”

Dan sungguh Allah telah memerintahkan dua orang nabi yang mulia, Musa dan Harun ‘alaihima as salam, untuk mendakwahi Fir’aun dengan santun dan lembut. Allah ta’ala berfirman,

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ . فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Pergilah kalian berdua ke Fir’aun. Sesungguhnya, ia telah melampaui batas. Dan ucapkanlah kepadanya ucapan yang lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)

Allah juga telah menyifati para sahabat Rasulullah yang mulia dengan sifat saling menyayangi di antara mereka. Allah ta’ala berfirman,

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ
“Muhammad itu utusan Allah. Dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras kepada orang-orang kafir, tetapi saling menyayangi di antara mereka.” (QS. Al Fath: 29)

Muslim Itu Mendahulukan Prasangka Baik dan Tidak Mencari-Cari Kesalahan Orang

Dalam Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al ‘Abbad hafizhahullahu ta’ala menerangkan,

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Wahai orang-orang beriman, jauhilah oleh kalian banyak prasangka. Sesungguhnya, sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan jangan pula kalian mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Jadi, dalam ayat yang mulia ini terdapat perintah untuk menjauhi banyak prasangka dan bahwa di sebagian prasangka itu ada dosa. Juga ada larangan untuk mencari-cari keburukan orang yang ini tidak lain dari mencari aib-aib manusia. Dan perbuatan ini hanya memunculkan kecenderungan untuk berprasangka buruk.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Jauhi oleh kalian dari buruk sangka. Sebab sesungguhnya buruk sangka itu sedusta-dusta ucapan. Dan jangan kalian saling mencari kabar buruk orang lain, saling memata-matai, saling hasad, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian itu hamba-hamba Allah yang bersaudara.” [HR. Al Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563]

Amirul Mukminin Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Jangan sekali-kali engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin, kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada kemungkinan-kemungkinan yang baik.” Ucapan Umar ini dibawakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir terhadap ayat Surat Al Hujurat.

Bakr bin Abdillah Al Muzani, sebagaimana termaktub dalam biografinya di Tahdzib At Tahdzib, mengatakan, “Hati-hatilah engkau dari ucapan yang kalau benar adanya tidak akan diberi pahala, tetapi kalau salah engkau berdosa. Yaitu, prasangka burukmu terhadap saudaramu.”

Abu Qilabah Abdullah bin Zaid Al Jarmi, sebagaimana dalam kitab Al Hilyah (2/285) karya Abu Nu’aim Al Asbahani, mengatakan,

“Jika sampai kepadamu sesuatu yang tidak engkau sukai tentang saudaramu, hendaklah engkau carikan untuknya alasan baik semampumu. Jika engkau tidak dapatkan alasan untuknya, maka katakan di dalam hatimu, ‘Sepertinya saudara saya ini memiliki alasan yang saya tidak ketahui’.”

Sufyan bin Husain mengatakan,

“Saya menceritakan sesorang dengan persangkaan buruk di sisi Iyas bin Mu’awiyah. Maka, beliau segera memandang saya dan bertanya, ‘Apakah engkau sudah memerangi bangsa Romawi?’. Saya jawab, ‘Belum’. Beliau tanya lagi, ‘Negeri Sindh? India? Turki?’. Saya jawab, ‘Belum’. Beliau bertanya, ‘Apakah Romawi, Sindh, India, dan Turki selamat darimu, sedangkan saudaramu muslim tidak selamat darimu?’. Setelah itu, saya pun tidak mengulanginya lagi.” (Al Bidayah wa An Nihayah karya Ibnu Katsir [13/121])

Saya katakan, alangkah bagusnya jawaban dari Iyas bin Mu’awiyah yang beliau itu dikenal karena kecerdasannya. Dan jawaban tersebut adalah contoh dari kecerdasan beliau.

Abu Hatim Ibnu Hibban Al Busti, dalam kitab Raudhatul ‘Uqala’ (halaman 131, mengatakan,

“Yang wajib bagi orang berakal adalah selalu menjaga keselamatan dengan meninggalkan cari-cari aib orang sambil menyibukkan diri dengan memperbaiki aib-aib sendiri. Sebab menyibukkan diri dengan aib-aib sendiri daripada aib-aib orang akan membuat dirinya lebih tenang dan tidak membuat hatinya lelah. Maka, setiap ia memikirkan aib sendiri, ia akan memandang tidak ada apa-apanya aib yang serupa pada saudaranya. Siapa saja yang menyibukkan diri dengan aib-aib orang ketimbang aib-aib sendiri, hatinya akan buta, tubuhnya akan lelah, dan ia akan mencari alasan untuk mengingat aib-aib dirinya sendiri.”

Ibnu Hibban Al Busti juga mengatakan (halaman 133),

“Mencari-cari kesalahan orang termasuk cabang dari kemunafikan, seperti halnya berbaik sangka temasuk cabang dari keimanan. Dan orang yang berakal akan berbaik sangka terhadap saudara-saudaranya dan merasa gundah dan sedih dengan aib-aib sendiri, seperti halnya orang yang bodoh akan berburuk sangka terhadap saudara-saudaranya dan tidak berpikir dengan kesalahan-kesalahan dan kelalaian-kelalaiannya sendiri.”

Bersabar Terhadap Musibah-Musibah Yang Datang Di Kehidupan Dunia Ini

Sabar terbagi menjadi tiga: [1] sabar dalam menaati Allah, [2] sabar dalam menjauhi apa-apa yang dilarang Allah, dan [3] sabar dalam menerima takdir Allah. Di antara takdir Allah yang dimaksud adalah musibah-musibah yang menimpa manusia di luar keinginan mereka. Tentang musibah-musibah ini, Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

Musibah-musibah yang menimpa seorang hamba ada dua jenis :


Musibah yang di luar kehendak makhluk, seperti sakit dan musibah-musibah lainnya yang datang dari Allah. Yang seperti ini mudah untuk bersabar di dalamnya. Sebab seorang hamba, terkait musibah-musibah itu, mengakuinya sebagai ketetapan dan takdir dari Allah. Sama sekali tidak ada campur tangan manusia dalam musibah tersebut.

Karena itu, seseorang [dapat] bersabar, baik karena terpaksa ataupun karena keinginannya sendiri. Maka, jika Allah bukakan dalam hati seorang hamba pikiran tentang manfaat-manfaat musibah, apa-apa yang terkandung dalam kenikmatan-kenikmatan dan kelembutan-kelembutannya, ia pun akan pindah dari bersabar atas musibah-musibah [yang menimpa] menuju bersyukur dan bersikap ridho dengan segala musibah  itu. Dengan demikian, musibah-musibah tersebut akan berbalik menjadi kenikmatan untuknya, sehingga lubuk hati dan lisannya selalu mengucapkan,

رَبِّ أَعِنِّي عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Wahai Rabbku, bantulah aku untuk mengingatMu, mensyukuriMu, dan baik dalam beribadah kepadaMu.”

Dan ini akan menguat dan melemah sesuai kadar kekuatan dan kelemahan rasa cinta seorang hamba kepada Allah. Bahkan, yang seperti ini, didapati oleh salah seorang di antara kita di dalam kehidupan, sebagaimana dikatakan oleh sebagian penyair yang mendapatkan sesuatu yang dibenci dari orang yang dicintainya, “Walaupun engkau menjelek-jelekkan aku, setidaknya aku bahagia karena engkau masih memikirkan aku.”

Jenis kedua adalah musibah yang menimpa seseorang karena ulah manusia pada hartanya, kehormatannya, atau pada dirinya. Maka, musibah jenis ini sangat sulit sekali untuk bersabar. Sebab, jiwa manusia senantiasa mengingat yang mengganggunya dan ia tidak ingin direndahkan, sehingga ia pun menuntut  untuk membalasnya.

Karena itu, tidaklah bersabar atas musibah jenis ini, kecuali para nabi dan orang-orang yang shiddiq [jujur dalam keimanannya]. Adalah nabi kita [Muhammad] shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika disakiti selalu mengucapkan,

يَرْحَمُ اللهُ مُوْسىَ لَقَدْ أُوْذِيَ بِأَكْثَرِ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ
“Semoga Allah selalu merahmati Musa ‘alaihis salam, sungguh beliau telah diuji lebih daripada ini dan beliau bersabar.” [HR. Al Bukhari dan Muslim]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah dikabari tentang seorang nabi dari kalangan nabi yang dipukuli oleh kaumnya. Maka, nabi tersebut berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرلِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَيَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah, ampunilah kaumku, sebab mereka ini tidak mengetahui.” [HR. Al Bukhari dan Muslim]

Dan telah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah mendapatkan ujian yang sama dari kaumnya. Beliau pun berdoa dengan doa seperti yang di atas. [HR. Ath Thabarani dalam Majma’ Az Zawa-id]

Karena itu, terangkum padanya tiga perkara: memaafkan mereka, meminta ampunan untuk mereka, dan memberi uzur [alasan untuk memaafkan] bahwa mereka itu tidak mengetahui.

Kesabaran jenis ini termasuk kesabara yang membuahkan pertolongan, hidayah, kebahagiaan, keamanan, kekuatan iman kepada Allah, bertambahnya kecintaan Allah serta kecintaan manusia kepadanya, dan tambahan ilmu. Karena itulah, allah ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka bersabar dan yakin dengan ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah: 24)

Jadi, sabar dan yakin—dengan keduanya—akan diperoleh kepemimpinan di dalam agama. Oleh karenanya, jika kesabaran jenis ini disertai dengan kuatnya keyakinan dan keimanan, maka orang yang memilikinya akan sampai ke tingkatan bahagia karena karunia Allah ta’ala.

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Dan yang demikian adalah keutamaan dari Allah. Allah anugrahkan kepada siapa saja yang Allah kehendaki dan adalah Allah yang memiliki karunia yang sangat besar.” (QS. Al Hadid: 21; QS. Al Jumu’ah: 4)

Karena itulah, Allah ta’ala berfirman,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ . وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ .

“Tolaklah keburukan dengan apa yang lebih baik, sehingga orang yang tadinya memusuhimu akan menjadi teman yang setia. Dan itu tidaklah terjadi kecuali pada orang-orang yang bersabar serta tidak ada yang bisa melakukannya, kecuali orang yang memiliki karunia yang sangat besar.” (QS. Fushilat: 34-35)