Selasa, 18 April 2017

Islam Itu Tidak Mempersulit Seseorang dalam Beribadah

Dalam Shahih Al Bukhari, disebutkan dari Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar pernah mengumandangkan azan untuk shalat di malam yang dingin dan berangin. Lalu, beliau radhiyallahu ‘anhuma mengucapkan,

أَلاَ صَلُّواْ فِي الرِّحَالِ

“Tidakkah kalian shalat di rumah-rumah kalian.”

Setelah itu, beliau mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh muazzin beliau, jika malam dingin dan hujan, untuk mengucapkan,

أَلاَ صَلُّواْ فِي الرِّحَالِ

‘Tidakkah kalian shalat di rumah-rumah kalian’.” (HR. Al Bukhari, nomor 666)

Tentang hadits ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta’ala mengatakan,

“Dalam hadits ini, ada dalil tentang bolehnya shalat [berjamaah] di rumah, jika turun hujan atau ada ‘illah lainnya. Dan ‘illah maknanya adalah sebab. Karena itu, jika terdapat sebab yang mendatangkan kesulitan untuk menghadiri shalat berjamaah, maka tidak mengapa seseorang itu shalat di rumahnya berdasarkan kaidah umum dalam agama Islam ini. Yaitu, ‘Adanya kesulitan mendatangkan kemudahan’. Kaidah ini diambil dari firman Rabb kita ‘azza wa jalla,

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

‘Allah menghendaki untuk kalian adanya kemudahan dan Dia tidak menghendaki untuk kalian kesulitan’. (QS. Al Baqarah: 185)

Dan juga firmah Allah ta’ala,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

‘Dan Allah tidak menghendaki untuk kalian kesulitan di dalam agama ini’. (QS. Al Hajj: 78)

Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika mengutus para dai, mengatakan,

يَسِّرُواْ وَلاَ تُعَسِّرُواْ ، وَ بَشِّرُواْ وَلاَتُنَفِّرُواْ ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُواْ مُعَسِّرِيْنَ
‘Permudahlah dan jangan persulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat lari. Sebab kalian itu diutus untuk mempermudah dan bukan diutus untuk mempersulit’.

Kaidah ini, amat disayangkan, dibalik oleh kebanyakan para dai [sekarang], seolah-olah mereka mengatakan,

عَسِّرُواْ وَلاَ تُيَسِّرُواْ ، وَ نَفِّرُواْ وَلاَ تُبَشِّرُواْ
‘Persulitlah dan jangan kalian permudah. Buat lari manusia dan jangan beri kabar gembira’. Meskipun itu tidak dikatakan dengan lisan, tetapi hanya disampaikan melalui perbuatannya.”

Wasiat Agar Bertakwa Adalah Wasiat Yang Paling Bermanfaat

“Adapun wasiat, maka aku tidak mengetahui yang lebih bermanfaat dari wasiat Allah dan rasulNya bagi yang mau merenungi dan mengikutinya. Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

“Dan sungguh telah betul-betul kami mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian agar hendaknya kalian bertakwa.” (QS. An Nisa’: 131)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah berwasiat kepada Mu’adz [bin Jabal] ketika hendak diutus ke Yaman. Beliau berkata,

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Wahai Mu’adz, bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Dan ikutkanlah keburukan dengan kebaikan—niscaya akan menghapusnya. Serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam kitab Ash Shahihah)

Di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Mu’adz radhiyallahu ‘anhu memiliki kedudukan yang tinggi. Sebab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

يَا مُعَاذُ، إِنِّي وَاللَّهِ لأحبُّك
“Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku betul-betul mencintaimu.” (HR. Abu Dawud dan An Nasa-i serta disahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula memboncengkan Mu’adz di belakang beliau.

Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda tentang Mu’adz,

أَعْلَمُ أُمَّتِي بِالْحَلالِ وَالْحَرَامِ


“[bahwa Mu’adz itu] yang paling berilmu pada umat ini tentang halal dan haram” (HR. At Tirmidzi, An Nasa-i, dan Ath Thabarani dan disahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam kitab Shahih Sunan At Tirmidzi) dan ketika hari penggiringan [nanti] Mu’adz berada sejarak satu rutwah di depan para ulama (HR. Ath Thabarani dan disahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam kitab Ash Shahihah).

[Satu rutwah] maksudnya, satu langkah.

Termasuk dari keutamaan Mu’adz, beliau pernah diutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan dakwah beliau, dai, ahli fikih, mufti, dan hakim untuk penduduk Yaman.

Para sahabat nabi menyerupakan Mu’adz dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, Al Khalil, sedangkan Ibrahim [sendiri] adalah pemimpin manusia. Dan Adalah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, “Sesungguhnya Mu’adz itu salah satu umat yang istiqamah kepada Allah, lurus, dan tidak menjadi orang-orang musyrik.” (HR. Abdurrazzaq dan Al Hakim serta disepakati kesahihannya oleh Adz Dzahabi)

Sebuah ungkapan penyerupaan terhadap Ibrahim ‘alaihis salam [sebagaimana yang Allah sebutkan tentang Nabi Ibrahim itu dalam Surat An Nahl: 120)

Selasa, 11 April 2017

SEBAB MANUSIA MEMANG INGIN HIDUP BAHAGIA

Semua manusia yang hidup di dunia ini pasti menginginkan bisa hidup dengan bahagia. Namun, kebanyakan dari Kita lupa dengan makna kebahagiaan yang sebenarnya. Padahal, Allah menurunkan Islam agar semua manusia yang beriman dapat merasakan kebahagiaan dan ketentraman dengan selalu berada di atas jalan Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Kami tidak mengutus Engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya: 107)

Allah menegaskan dalam ayat itu bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam, tentu orang-orang yang beriman lebih pantas mendapatkan kebahagiaan dibandingkan makhlukNya yang lain.

Iman dan amal shalih memberikan pengaruh yang baik kepada kehidupan manusia. Ada korelasi yang kuat antara keimanan dan kebahagiaan. Pada surat Al Fatihah,  setelah Allah memerintahkan kita untuk meminta petunjuk agar kita selalu berada di jalan yang lurus, Allah menjelaskan bahwa jalan yang lurus itu:

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (QS. Al Fatihah: 6)

Maksudnya, mereka itu para nabi, para shiddiq, syuhada, dan orang-orang shalih. Sebab sejatinya, jalan yang lurus itu memang penuh dengan kenikmatan, penuh dengan kesejukan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Kita memerhatikan perjalanan hidup dan kisah para nabi dan shahabat, Kita akan berdecak kagum dengannya.

Iman adalah harta yang paling berharga dan termahal bagi seorang muslim. Semua kita pasti mendambakan memiliki iman yang baik yang menjadi sumber kebahagiaan dan ketentraman. Sebagaimana gambaran iman para sahabat yang telah Allah abadikan dalam Al Qur-an,

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ


“Tetapi Allah menjadikan kamu sekalian (wahai para sahabat) cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah (seperti perhiasan) dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan perbuatan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al Hujurat: 7)

Hal itu senada dengan perkatan Ibnu Taimiyah juga. “Di dunia ada surga, yang tidak masuk ke dalamnya, tidak bisa masuk ke dalam surga di akhirat.” Yang dimaksud surga dunia adalah kenikmatan dalam iman dan amal shalih.

Hanya iman dan amal shalih yang mampu mengantarkan manusia ke puncak kebahagiaan tertinggi. Hanya iman dan amal shalih jugalah yang mampu mengantarkan manusia pada kenikmatan sejati dan abadi di akhirat kelak, sebagaimana yang Allah tegaskan,

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ


“Siapa saja yang mengerjakan kebaikan baik laki-laki maupun perempuan dan dalam keadaan mukmin, maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari yang mereka kerjakan.” (Q.S An Nahl: 97)

Terlalu banyak contoh dan kisah nyata yang membuat kita semakin semangat untuk turut merasakan manisnya iman. Seperti kisah semangat Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat tahajud hingga kaki beliau bengkak. Rasulullah hanyalah manusia biasa. Beliau juga merasakan sakit yang sama seperti kita. Tentu bengkak tersebut terasa sakit dan tidak mengenakkan. Namun, karena iman yang benar telah merasuk ke dalam hati Rasulullah, maka semua rasa sakit tersebut tidak berarti—dikalahkan oleh kebahagiaan dan kenikmatan yang Rasulullah rasakan.

Banyak di antara kita yang mengaku beriman dan telah mengerjakan amal shalih,  namun mereka tidak merasakan kebahagiaan dengan iman dan amal shalih mereka. Justru, di antara kita banyak yang merasa berat dan terbebani oleh syariat yang telah diturunkan. Ibnu Taimiyah telah mengomentari hal ini dengan berkata,

“Jika engkau tidak merasakan manisnya (iman) dan kelapangan (di dalam hati) ketika beramal shalih, maka curigailah imanmu. Sebab sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala adalah asy syakur (maha mesyukuri atau membalas perbuatan baik hamba-hambaNya dengan balasan yang sempurna). Artinya, Dia pasti memberikan balasan bagi seorang hamba yang mengerjakan amal shalih di dunia dengan balasan yang berupa manisnya iman yang dirasakan di dalam hati, keteguhan dan kelapangan dada serta kesejukan dalam jiwa, maka ketika hamba tersebut tidak merasakan hal ini, berarti amalnya (imannya) telahbercampur (keburukan sehingga rusak).”

Para ulama telah menjelaskan kaidah-kaidah penting agar seseorang bisa merasakan manis dan lezatnya iman. Ibnul Qayyim mengatakan, “Kelezatan mengikuti yang dicintai.” Pernyataan ini tidak bisa dipungkiri kebenarannya. Kita bisa saksikan bagaimana asyik dan bahagianya seorang sahabat ketika bertemu dengan orang yang sangat dicintainya. Kita bisa saksikan bahagianya seorang ibu ketika melihat dan berkumpul dengan anak yang dicintainya.

Ya, itu karena berawal dari cinta. Artinya, seseorang bisa merasakan manisnya iman dan amal shalih jika dia bisa mencintai iman dan amal shalih. Artinya, ia juga harus bisa mencintai yang maha  memberikan dan menganugrahkan iman dan amal shalih tersebut, yaitu Allah. Ibnul Qayyim tidak sembarangan dalam membuat kaidah tersebut. Ada hadits Rasulullah yang sharih menguatkan perkataan beliau. Hadits itu dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ta’ala ‘anhu yang di dalamnya Rasulullah bersabda,

“Ada tiga sifat yang siapa saja memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya keimanan: [1] menjadikan Allah dan rasulNya lebih dicintai dari selain keduanya, [2] mencintai orang lain semata-mata karena Allah, dan [3] merasa benci (enggan) untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah sebagaimana ia enggan untuk dilemparkan ke dalam api Neraka.”

“Ya Allah, hiasilah (diri) kami dengan perhiasan indahnya keimanan serta jadikanlah kami sebagai orang-orang yang selalu mendapat petunjuk dariMu dan memberi petunjuk kepada orang lain.”

DOA-DOA KETIKA HIDUP TERASA SEMPITT


1. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ، وَرَبُّ الأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika merasa sempit berdoa,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ، وَرَبُّ الأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

‘Tiada sembahan yang berhak disembah, kecuali Allah, yang maha agung, yang maha lembut. Tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Rabb ‘arsy yang agung. Tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Rabb langit dan Rabb bumi serta Rabb ‘arsy yang mulia’.” [HR. Al Bukhari nomor 6346 dan Muslim nomor 2703]

2. عَنْ أَسْمَاء بْنَتِ عُمَيسٍ قَالَتْ : قَالَ لِي رَسُولُ الله – صلَّى الله عليه وسلم -: ” أَلَا أُعَلِّمُكِ كَلِمَاتٍ تَقُوْليِنَهُنَّ عِنْدَ الكَربِ – أَوْ فِي الكَربِ – اللهُ اللهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً
Dari Asma’ bintu Umais radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadaku, ‘Maukah kuajarkan kata-kata yang engkau ucapkan ketika merasa sempit atau dalam kesempitan?

اللهُ اللهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً

Allah, Allah, Rabb-ku. Tidak akan kusekutukan Dia dengan apapun’.” [HR. Abu Dawud nomor 1525 dan Ibnu Majah nomor 3882, disahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib hadits nomor 1824]

3. عن أبي بكرة أنّ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم قال : ” دعواتُ المكروبِ: اللهُمَّ رحْمتَك أرجُو، فلا تكلْنِي إلى نَفْسي طرْفَةَ عَينٍ، وأصلحْ لي شأني كُلَّهُ، لا إلهَ إلا أنتَ .

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Doa-doa bagi yang diberi musibah berupa kesempitan:

اللَّهُمَّ رَحْمتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِي إِلىَ نَفْسِي طَرْفَةَ عَينٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ


Ya, Allah, rahmatMu kuharapkan. Maka, jangan Engkau tinggalkan diriku sekejap mata pun. dan perbaikilah semua urusanku. Tiada sembahan yang hak kecuali Engkau’.” [HR. Abu Dawud nomor 5090 dan disahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ hadits nomor 3388]

4. عَنْ سَعْدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ “.

Dari Sa’ad [bin Abi Waqqash] radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Doa Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika berdoa dan beliau ada di dalam perut ikan paus:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Tiada sembahan yang berhak disembah, kecuali Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk dari orang-orang yang zalim.

Sesungguhnya, tidak ada seorang muslim yang berdoa dengannya terkait satu apa pun, kecuali Allah akan mengabulkan doanya’.” [HR. At Tirmidzi nomor 3505 dan disahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ hadits nomor 3383]

RUJUKAN: Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al ‘Abbad Al Badr. Atsar Al Adzkar Asy Syar’iyyah fi Thardil Hammi wal Ghammi. Madinah: TPn. 1421H, halaman 8-9.

DOA KETIKA SEDIH DAN GALAU

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

ﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺏَ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻗَﻂُّ ﻫَﻢٌّ ﻭَﻻ ﺣَﺰَﻥٌ ﻓَﻘَﺎﻝَ

“Tidaklah seseorang mengalami kegundahan dan kesedihan, lalu ia mengucapkan,

اللّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَم

‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu dan anak hamba perempuanMu. Ubun-ubunku berada di tanganMu. HukumMu berlaku padaku dan ketetapanMu terhadapku adalah keadilan. Aku mohon kepadaMu dengan segenap nama yang Engkau miliki yang Engkau namai diriMu sendiri dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhlukMu atau apa yang telah Engkau turunkan di dalam kitabMu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisiMu agar Engkau jadikan Al Qur`an sebagai penyejuk hatiku dan cahaya di dadaku serta penawar kesedihanku dan pelenyap kegundahanku’.

ﺇِﻻ ﺃَﺫْﻫَﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻫَﻤَّﻪُ ﻭَﺣُﺰْﻧَﻪُ ﻭَﺃَﺑْﺪَﻟَﻪُ ﻣَﻜَﺎﻧَﻪُ ﻓَﺮَﺣًﺎ

Kecuali, Allah akan menghilangkan kegundahan dan kesedihannya serta Allah gantikan dengan kebahagiaan.”

ﻓَﻘِﻴﻞَ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ، ﺃَﻓَﻼ ﻧَﺘَﻌَﻠَّﻤُﻬَﺎ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻘَﺎﻝَ : ” ﺑَﻠَﻰ ، ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻟِﻤَﻦْ ﺳَﻤِﻌَﻬَﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻌَﻠَّﻤَﻬَﺎ


Lalu ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami mempelajarinya?” Beliau menjawab, “Tentu. Orang yang telah mendengarnya semestinya mempelajarinya.”

Hadits ini dihasankan oleh imam ahmad bin hambal di dalam Musnadnya.

RUJUKAN : Musnad Ahmad (Jilid I, halaman 452, hadits nomor 4318), Al Mustadrak Al Hakim (Jilid I, halaman 690, hadits nomor 1877 dan Al Hakim mengatakan, “Hadits shahih bi syarthi Muslim), dan disahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah (Jilid I, halaman 337).

Doa Meminta Jodoh bagi Muslimah

Doa Meminta Jodoh bagi Muslimah. Saat ini menikah banyak menjadi persoalan yang sangat pelik dan besar bagi beberapa pihak. Persoalan yang mengganjal kemudahan dan kelancaran pernikahan tidak sebatas factor biaya pernikahan yang besar saja. Dalam beberapa keadaan, persoalannya bahkan berakar kepada faktor pemilihan dan penentuan calon pasangan hidup.

Para akhwat / muslimah lebih pusing lagi. Jumlah kaum muslimah yang lebih banyak dari jumlah kaum pria adalah sebuah persoalan tersendiri. Apalagi para akhwat biasanya relatif pasif dan hanya menunggu bola. Maka urusan memilih seorang calon suami yang baik pemahaman dan pengamalan agamanya, baik akhlaknya, baik garis keturunan keluarganya, syukur-syukur tampan wajahnya dan mapan pekerjaannya, sungguh pekerjaan yang sulit.


Saking sulitnya, terkadang menantikan kedatangan seorang pria muslim yang rajin shalat lima waktu secara berjama’ah, tidak merokok dan bukan pengangguran saja —kriteria yang sebenarnya tak muluk-muluk— butuh waktu yang entah berapa lama, hanya Allah yang tahu. Ini adalah Doa Meminta Jodoh bagi Muslimah atau akhwat yang menantikan jodoh dan suami yang baik dalam agama, dunia dan akhirat.

Doa Meminta Jodoh bagi Muslimah
“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJAN THOYYIBAN WAYAKUUNA SHOOHIBAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH”.

Artinya:
“Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia & akhirat”.

Ada juga doa mencari jodoh dalam islam yang juga bisa dibaca oleh para akhwat yang mengharap jodoh dengan segera.

Doa Mencari Jodoh

“Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiena imaamaa.”

Artinya:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami jodoh [2] kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa.” (QS 25:74)

Doa Minta Jodoh

“ROBBI LAA TADZARNI FARDAN WA ANTA KHOIRUL WAARITSIN”.
Artinya:
“Ya Allah janganlah engkau tinggalkan aku seorang diri dan engkau sebaik-baiknya dzat yang mewarisi”.

Semoga Allah SWT mengabulkan semua doa kita, dan semoga semuanya mendapatkan jodoh yang baik dalam agama, dunia dan akhirat.

Sabtu, 08 April 2017

NILAI SEBUAH KEJUJURAN

Islam datang ke tengah-tengah manusia mengajak kepada kejujuran, baik dalam ucapan atau amalan. Secara fitrah, manusia sepakat bahwa kejujuran adalah akhlak yang mulia nan terpuji. Manusia cenderung senang terhadap orang-orang yang jujur. Sebaliknya, kedustaan, kebohongan, merupakan akhlak yang tercela. Manusia merasa tidak aman dengan orang-orang yang senantiasa berdusta.

Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebelum diangkat sebagai rasul, dikenal sebagai orang terpercaya dan jujur. Orang-orang kafir Quraisy mengakui akan kejujuran beliau, sehingga beliau diberi gelar “Al Amiin”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para sahabat agar mereka senantiasa di atas kejujuran, sebagaimana ketika ditanyakan oleh Kaisar Heraklius. Apa yang diajarkan dan diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya? Dijawab,

“Ia memerintahkan kami melaksanakan shalat, bersikap jujur, menjaga kehormatan dan menyambung silaturahmi. Beribadahlah kepada Allah saja dan jangan menyekutukan kepadanya dengan sesuatu apapun, tinggalkanlah apa yang dikatakan bapak-bapak kalian.”

Makna jujur adalah sesuainya kabar dengan kenyataan. Apabila seseorang mengabarkan sesuatu sesuai dengan terjadinya tanpa ia tambah-tambahi atau ia kurangi, ia telah berkata jujur. Adapun jujur dalam amalan, seseorang berbuat sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya, lahirnya sama dengan batinnya. Maka orang yang beribadah dengan ingin dilihat orang lain, tidaklah jujur dalam amalannya. Sebab ia menampakkan seakan beribadah dengan ikhlas karena Allah, namun hatinya bertentangan. Kejujuran adalah pangkal dari berbagai macam kebaikan. Betapa banyak muncul kebaikan disebabkan dari kejujuran. Terjalinnya silaturahmi, saling percaya, amanah senantiasa terjaga, dan yang lainnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

طَاعَةٌ وَقَوْلٌ مَّعْرُوفٌ فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْراً لَّهُمْ

“Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jika mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu,
“Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan mengantarkan menuju Surga. Sesungguhnya seorang berkata jujur, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan mengantarkan kepada kejelekan dan kejelekan mengantarkan kepada Neraka. Sungguh seorang berdusta sampai Allah catat ia sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari kejujuran timbul rasa tenang, karena orang yang jujur tidak pernah menyesal. Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menyelamatkan orang yang jujur dengan kejujurannya, sehingga kita dapatkan orang-orang yang jujur dalam keadaan tenang. Tidak pernah menyesali apa yang telah terjadi. Dikarenakan ia telah melakukan sesuai dengan yang semestinya dan jujur, baik dalam ucapan atau perbuatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kejujuran adalah ketenteraman dan kedustaan adalah kebimbangan.” (HR.Tirmidzi, disahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Nilai kejujuran di dalam syariat sangatlah agung. Allah subhanahu wa ta’ala  membalas kejujuran dengan ganjaran yang besar. Dalam ayatNya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيراً وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35)

Namun yang sangat disedihkan, kejujuran menjadi sesuatu yang langka di tengah-tengah manusia. Tidaklah didapatkan orang yang jujur, kecuali segelintir dari kalangan mereka. Adapun kedustaan, menjadi sesuatu yang ringan, menyampaikan kabar tidak sesuai dengan kenyataannya. Kadang dilebihkan, kadang dikurangi. Bahkan, jauh dari kenyataan.

Padahal Allah subhanahu wa ta’ala memposisikan orang-orang yang jujur derajat kedua setelah para nabi dan rasul, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan orang-orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah dengan jalan yang lurus. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً

“Dan siapa saja yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiq, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nisa’: 69)

Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah manusia paling jujur di antara para shiddiqin, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling utama. Beliau membenarkan kabar yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa keraguan, sehingga beliau diberi gelar ash shiddiq. Beliau senantiasa jujur dalam ucapan dan perbuatan.

Siapa saja yang ingin mendapatkan keutamaan, sebagaimana yang telah didapatkan oleh Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, baginya untuk bersifat jujur. Hendaklah kejujuran menjadi perangai yang ada pada seorang muslim. Jadilah kita termasuk orang-orang yang jujur. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
 
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah: 119)