Selasa, 04 April 2017

Muslim Yang Baik Tidak Berkata Kasar dan Kotor

Mukmin atau muslim yang baik tidak akan berkata keji, kotor, melaknat, mencela. Muslim sejati akan berbicara sopan, santun, tidak menyakiti hati orang lain, dan selalu mengenakkan dalam berbicara atau berkomentar.

JIKA kita rajin membaca komentar di Facebook atau situs berita, maka akan kita temukan banyak sekali orang yang berkomentar dengan kasar, kotor, jorok, cabul, menghujat, mencaci-maki, dan sebagainya, seakan-akan merekalah yang paling benar.

Komentar di media online atau media sosial memang gampang. Semua orang berani berkomentar apa saja, terutama mereka yang menggunakan nama, akun, atau identitas palsu. Identitas palsu atau “ngumpet” di internet itulah yang menjadikan semua orang merasa leluasa berbicara dan berekspresi.

Lain halnya di dunia nyata. Sedikit sekali orang yang berkomentar “seberani” di internet.

Di sisi lain, kita prihatin, banyaknya komentar kasar, jorok, keji, mengumpan, mencela dan sebagainya itu, juga menunjukkan “jati diri” bangsa Indonesia yang “katanya” ramah dan santun. Kita jadi ragu, benarkah bangsa Indonesia ramah? Tapi mengapa komentar bereka banyak yang keji, seolah-olah mereka tidak berpendidikan dan “tidak beradab” (uncivilized)?

Jika yang suka komentar kotor, jeji, kasar, mengumpat, mencela, dsb itu adalah orang beriman (mukmin/muslim), maka jelas mereka bukan muslim yang baik. Kita harus ingatkan. Walaupun kita mengkritik terhadap perbuatan yang buruk tetapi dalam berkomentar atau menegur sebaiknya dengan kata-kata yang baik bukan dengan kata kotor dll.

Kaum Muslim dididik dengan ajaran agama yang benar dan lurus. Islam itu rahmatan lil’alamin (menebar kasih sayang terhadap sesama) dan mengutamakan akhlak mulia (akhlaqul karimah).

Mukmin atau muslim yang baik tidak akan berkata keji, kotor, melaknat, mencela, dan sebagainya yang buruk-buruk. Muslim sejati akan berbicara sopan, santun, tidak menyakiti hati orang lain, dan selalu mengenakkan dalam berbicara atau berkomentar.

Muslim yang baik itu bersikap “dewasa”, tidak emosional, tidak suka menghujat, sabar, tenang, hatinya penuh dengan dzikir, hatinya bersih, cool, calm, dan anti-kekerasan.

Melalui Rasulullah Saw, ajaran Islam mengajarkan kepada setiap kaum mukmin agar berkata yang baik saja atau diam. Qul khoiron auliyashmut. Berkata yang baik atau diam.

Rasulullah Saw juga menegaskan, orang beriman itu tidak suka mencela, melaknat, berkata-kata keji dan berbicara kotor.

 لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَ لَا اللَّعَّانِ وَ لَا اْلفَاحِشِ وَ لَا اْلبَذِيِّ

“Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat/berkata-kata keji, dan orang yang berkata-kata kotor/jorok” (HR Bukhori, Ahmad, Al-Hakim, dan Turmudziy dari Ibnu Mas’ud).

Hadits shahih yang termaktub dalam kitab al-Adab al-Mufrad, Sunan at-Turmudziy, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah itu menegaskan jati diri dan perangai mulia kaum mukmin sejati.

Tegasnya, Muslim yang Baik Tidak Akan Berkata Kasar & Kotor, termasuk dalam berkomentar di media online atau media sosial, sekalipun identitasnya disembunyikan atau “palsu”.

Semoga kita diberi kekuatan untuk menjadi Muslim yang Baik, taat perintah Allah dan Rasul-Nya, termasuk tidak berkata kasar, kotor, keji, mengumpat, dan sebagainya. Amin!

Ini Dia, Buktinya Kalau Pamer Bisa Bikin Kamu Miskin

Merasa lebih percaya diri saat pakai barang bermerek, sibuk foto-foto makanan untuk dipajang di Instagram, dan rajin update lokasi Path jika sedang ngopi-ngopi cantik di kafe mahal. Kegiatan tersebut bisa tergolong sebagai pamer. Istilah pamer identik dengan orang yang suka menyombongkan diri saat punya atau mengalami sesuatu yang keren. Sebenarnya, tidak ada orang yang senang dibilang pamer. Tapi keberadaan media sosial saat ini mendorong banyak orang menjadi tukang pamer.

Postingan foto di Instagram, Path atau Facebook pasti bukan sekadar berbagi kebahagiaan. Bisa jadi karena ingin di-“like” karena itu artinya kamu disukai, gambarmu disenangi, dan mendapat apresiasi. Dalam kata lain eksistensi kamu dipandang oleh orang lain. Tapi memaksakan pamer karena ingin eksis bisa bikin kamu miskin lho.

Pertama. Selalu beli barang baru setiap minggu padahal nggak punya uang :
Siapa di antara kamu yang sering posting foto OOTD ( Outfit of The Day)? Pasti kamu merasa lebih berkelas saat mencantumkan caption jika barang yang kamu pakai bermerek. Produsen barang branded tentunya tidak mengeluarkan koleksi terbaru satu atau dua kali dalam setahun. Ini merupakan trik agar pembeli mendapatkan gengsi saat memilikinya.

Bagi mereka yang eksistensinya di media sosialnya sudah mendapat predikat selebgram, OOTD harus dilakukan setiap hari (sesuai dengan namanya). Itu artinya mereka harus foto dengan baju yang berbeda setiap harinya. Kalau memang mendapat endorse sih tidak masalah. Tapi jika tidak, kocek sendiri pasti dikorbankan. Padahal, belum tentu kamu punya bujet untuk itu.

Kedua, Sangat mengandalkan kartu kredit :
Saat tidak punya uang tapi takut kehabisan barang branded keluaran terbaru, kartu kredit adalah jawabannya. Pola pikir ‘ambil sekarang, bayar nanti’ inilah yang membuatmu susah kaya.
Memang kartu kredit memberikan keuntungan lain berupa reward dan diskon. Tapi kalau kamu selalu menggunakan kartu kredit untuk memenuhi gaya hidupmu, bisa jadi kamu akan terjerat dalam kubangan utang.

Ketiga, Gaji cuma numpang lewat :
Awal bulan adalah saat di mana banyak orang bisa makan enak dan beli barang yang diiiginkan. Tapi karena kebiasaan itu, banyak orang juga harus merana di akhir bulan. Ibaratnya, gajimu hanya numpang lewat. Teman-temanmu di Path dan Instagram selalu menganggap hidupmu serba senang. Kamu selalu makan enak dan liburan ke tempat seru. Tapi sebenarnya jangankan menabung, untuk biaya hidup akhir bulan saja kamu ketar-ketir. Semuanya cuma demi tampilan bagus di Path dan Instagram.

keempat, Punya lebih dari satu tagihan besar yang harus dibayar :
Demi memperlihatkan kalau kamu adalah eksekutif muda yang sukses, kamu pun berani mengambil cicilan mobil dan kredit rumah. Kamu pasti terkesan mapan di mata setiap orang. Padahal kenyataannya, kamu harus membayar tagihan besar setiap bulan meski penghasilan tidak mencukupi. Semua pembelian besar yang kamu lakukan mengandung konsekuensi. Kalau tidak mampu bayar, bukankah artinya hidupmu memang belum mapan?

Kelima, Dikit-dikit ambil cicilan :
Ada istilah yang mahal itu gaya hidup, bukan biaya hidup. Jadi kalau tidak mau jatuh miskin, hiduplah sesuai kemampuan. Cicilan memang memudahkan kamu untuk memiliki sesuatu. Tapi kalau kamu tidak bisa menghitung rasio dengan tepat, pasti akan jadi masalah. Dan, memangnya rela kelaparan hanya demi punya smartphone keluaran terbaru?

Hidupmu kamu sendiri yang menjalani, bukan orang lain. Saat kamu susah, mereka yang menekan tombol like di Path atau Instagram belum tentu membantumu. Eksis di media sosial sah-sah saja. Siapa sih yang tidak ingin disukai orang lain? Tapi kalau dalam sepuluh tahun ke depan eksis-mu justru menjerumuskanmu ke lembah kemiskinan, coba pikir dulu lebih matang.

Waspadai, Ini Tempat Tinggal Jin di Tubuh Kita

Tahukah kita sebenarnya setan atau jin bisa tinggal di tubuh kita. Tujuan nya tidak lain adalah untuk senantiasa menggoda manusia agar menjauh dari perintah Allah SWT. Seperti dalam penjelasan yang lain tentang Jin Qorin pendamping kita sejak lahir yang di tugaskan untuk menggoda manusia agar tersesat dan melakukan perbuatan yang di larang Allah SWT.

Sebenarnya setan atau jin itu hidup berdampingan dengan kita, tetapi manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Jin. Padahal Jin ada dimana-mana, bahkan ditubuh kita. Berdasarkan hadits Rasulullah, ada beberapa anggota tubuh manusia yang bisa dijadikan Tempat Tinggal Jin Di Tubuh Kita. Berikut tempat tersebut:

Pertama, Aliran darah

“Sesungguhnya setan itu berjalan dalam tubuh anak Adam melalui peredaran darah dalam tubuhnya.” (H.R. Muslim)

Penting merutinkan diri untuk berbekam mengeluarkan darah kotor setiap bulannya, terutama yang temperamental, mudah emosional. Sebaiknya ruqyah diri sendiri setiap malam sebelum tidur dengan membaca beberapa ayat qur’an dan diniatkan untuk mengusir gangguan jin yang ada di tubuh kita.

Kedua, Lubang mulut
“Apabila seseorang dari kalian menguap, letakkanlah tangannya pada mulutnya (tutuplah), karena setan akan masuk bersama dengan orang yang menguap (yang mulutnya tidak ditutup)” (HR. Muslim)

Setiap akan menguap, tutuplah mulut dengan punggung tangan agar syetan tidak ikut masuk ke lubang mulut kita, demikianlah etikanya.

Ketiga, Kuku tangan dan kaki

“Potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku-kuku yang panjang.” (HR. Ahmad)

Jadi pastikan kuku selalu dipotong maksimal dalam waktu 40 hari.

Keempat, Lubang hidung

“Apabila salah seorang di antara engkau bangun tidur, hendaklah mengeluarkan air dari hidungnya (istintsar) tiga kali, karena setan itu menginap di batang hidungnya.” (H.R. Muslim).

Kelima, Lubang telinga


Sebagaimana diceritakan dari Abdullah bahwa di sisi Nabi bahwa ada seorang laki-laki yang selalu tidur sampai pagi tanpa mengerjakan shalat (malam). Lalu beliau bersabda, “Setan telah kencing di telinganya”. (H.R. Muslim).

Karenanya sebagai hamba Allah SWT, kita harus senantiasa meminta perlindungan dari syaitan, jin maupun iblis. Terlebih Jin akan selalu menggoda agar kita melakukan perbuatan yang dilarang Allah SWT.

Selasa, 28 Maret 2017

Meningkatkan Kecerdasan Otak Lewat Membaca Al Quran

Mungkin banyak dari kita mendengar tentang manfaat membaca Al quran. Dalam kaitanya artikel kali ini adalah bagaiman Meningkatkan Kecerdasan Otak Lewat Membaca Al Quran menurut hasil penelitian.

Penghafal al quran, banyak sekali keutamaan baik di dunia maupun di akhirat bagi orang yang menghafal Al-Quran, sayang tak banyak anak-anak yang mau menghafal dengan berbagai alasan padahal tidak bisa di pungkiri bahwa dengan Membaca Al Quran secara tidak langsung Meningkatkan Kecerdasan Otak.

Menghafal Quran bukanlah hal yang mudah, tapi juga tidak susah bila niat dengan tulus dan mempunyai keinginan dan berusaha dengan semaksimal mungkin, dengan menghafal otak kanan akan terbiasa berfikir dengan detail, dan fokus, karena menghafal Quran tidak dapat dilakukan dengan sembarangan harus benar sepenuhnya benar bacaan baik tanda baca maupun panjang pendeknya. Tidak ada yang tahu pasti bila tidak mempraktekanya karena Kenikmatan menghafal Al-Quran dan keistimewaannya tidak akan bisa dirasakan kecuali bagi mereka yang telah menghafalnya, tapi Satu hal yang pasti Allah selalu memberikan jalan kemudahan bagi setiap hambanya yang mau bersungguh-sungguh dan melakukan ibadah di jalanya.

Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an.

Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.

Menurut penelitian membaca Al Quran sehabis maghrib dan subuh dapat meningkatkan kecerdasan otak sampai 80 % , karena di sana ada pergantian dari siang ke malam dan dari malam kesiang hari di samping itu ada tiga aktifitas sekaligus , membaca , melihat dan mendengar.

Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Alquran.

Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alquran. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alquran.

Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).

Maha benar Allah yang telah berfirman, apabila dibacakan Alquran, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

Pentingnya Menjaga Lisan

“ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian,hendaklah iya bertutur kata yang baik atau lebih baik diam” (HR. Bhukhari dan Muslim)
Jika ucapan adalah perak, maka diam adalah emas. ungkapan ini seolah mengisaratkan kita bahwa diam menyelamatkan kita. dan diam itu lebih baik dari pada berkata kata tetapi tidak ada manfaat nya. Bahkan lisan memegang peranan penting dari 77 cabang keimanan. amal lisan adalah yg paling bnyak jumlah nya. oleh karenanya islam menekankan akan penting nya menjaga lisan dalam kehidupan sehari hari.

Imam al-ghajali rahimahullah memberikan nasehat kepada kita, bahwa lisan sungguh amat besar bahayanya. tidak ada manusia yg bisa selamat dari lisan ini kecuali dengan diam. oleh sebab itu, islam memuji orang yg diam tidak berkata kata kecuali yg keluar dari lisanya ini sebuah perkataan yg baik.
Allah SWT berfirman : ….serta ucapkanlah kata kata yg baik kepada manusia”.(Q.S Al baqarah :83).

Pentingnya Menjaga Lisan

Terkadang menjaga lisan itu sangat sulit dilakukan oleh kita, kecuali orang orang beriman kepada Allah dan menyakini akan adanya hari akhir yaitu hari penuh perhitngan dan pembalasan.

Sahabat dunia islam, yakin lah orang yg berbuat dan beramal shalih pasti akan di balas dgn kesenangan dan kebahagian. sedangkan orang yg tidak berbuat baik dan tidak beramal shalih mendapatkan balasan dari keburukan itu. semoga Allah memberi kepada kita ke istiqomahan dalam beramal shalih.

Sesungguh nya kita mengetahui bahwa lisan merupakan salah satu nikmat yang besar, bentk nya kecil dan halus namun disitu terletak kebaikan dan keburukan seseorang.
amat besar pengaruhnya terhadap yang positif maupun yg negatif dalam kehidupan seorang muslim.

Membahas tentang lisan ada satu nasehat yang sangat berharga dalam hal menjaga lisan, disampaikan oleh Rasulullah SAW dan menjadi tuntunan kita, sebagai mana hadis di atas yaitu “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendak nya berkata baik atau diam”

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, Uqbah bin Amir berkata : aku pernah bertanya kepada Rasullah SAW, Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu? beliau menjawab, tahan lah lisan mu dan hendak nya rumah mu menyenangkan mu (karena penuh dengan dzikir dan mengingat Allah SWT) dan menangislah atas kesalahan mu (karena menyesal). (HR. Tirmidzi).

Diujung pembahasan tentang Pentingnya Menjaga Lisan, mari kita selalu menjaga diri dari ucapan yg tidak bermanfaat seperti gibah, menceritakan keburukan orang lain maupun berbohong dan menfitnah. banyak berbicara yg tidak bermanfaat membuat hati menjadi keras, jika kita tidak mampu untk menjaga semua itu maka lebih baik diam. dan diam merupakan pilihan paling bijak dan menyelamatkan baik dunia maupun akhirat. Tidak sedikit persahabatan menjadi retak hanya karena perkataan yang menyinggung perasaan, banyak pertemanan yang akhirnya berujung pertengkaran dan permusuhan, tidak sedikit pasangan suami istri yang cekcok dan bertengkar dikarenakan ucapan yg salah keluar dari lisan. olehkarena itu. jika kita tidak mampu berkata baik, maka diam jalan yang paling bijak.

Orang Tua Juga Bisa Durhaka Kepada Anak?

Orang tua Juga Bisa Durhaka Kepada Anak – Ustadz Muslih Abdul Karim, Lc menceritakan kepada Ummi, pada suatu hari, seorang laki-laki menemui Umar bin Khaththab untuk mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar memanggil anak tersebut dan menegur perbuatannya itu. Setelah itu anak tersebut bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah  anak memiliki hak atas orangtuanya?”

Umar menjawab, “Benar.”

“Apa hak anak?” tanya sang anak. Dijawab Umar, “Memilihkan calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarinya Al-Qur’an.”

Anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang tuan sebutkan itu. Ibuku wanita berkulit hitam bekas budak beragama Majusi. Ia menamakanku Ju’lan (tikus atau curut), dan dia tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an.

Umar segera memandang orangtua itu dan berkata, “Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”

Dewasa ini kita sering mendengar kezaliman yang dilakukan orangtua kepada anaknya. Ada ayah yang memperkosa anaknya selama bertahun-tahun, Ibu yang menjual anaknya, atau guru yang menganiaya murid.  Islam sangat keras menentang kekerasan pada anak, bahkan tak menunjukkan kasih sayang saja dilarang.

Dari Abu Hurairah ra katanya Rasulullah SAW mencium Hasan bin Ali. Ketika itu duduk Aqra bin Habis. Al Aqra berkata: ”Aaya mempunyai sepuluh anak, tidak seorangpun di antara mereka yang pernah saya cium”. Rasulullah memandang kepadanya, kemudian berkata:”Siapa yang tidak mengasihi tidak akan di kasihi”(Shahih Bukhari jilid IV, hadis ke 1696)

Islam dalam segala aspek kehidupan

Pemisahan agama dari kehidupan keluarga, masyarakat, bahkan bernegara menjadi pemicu utama dalam membentuk individu yang tak berperasaan. Kekerasan yang diterima anak baik fisik maupun psikis adalah bukti jauhnya manusia dari hati nurani. Padahal perasaan dan nurani hanya dapat terasah dengan hadirnya iman dan ketaqwaan.

Bagaimana mungkin seorang yang memiliki iman tega menyakiti makhluk lemah anak demi pelampiasan amarah, menghancurkan karakter anak dengan kata-kata negatif, bahkan membunuh masa depan mereka dengan pelecehan seksual? Kekerasan hanya akan membentuk anak yang telah dewasa menjadi pribadi penerus lingkaran kezaliman pada anak di bawahnya. Bagaimana memutusnya?

Islam paling depan menyuarakan perlindungan dan kasih sayang terhadap mereka sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw terhadap anaknya, cucunya, bahkan anak para sahabatnya. Beliau bersabda, “Man laa yarham laa  yurham” siapa yang tidak mencinta maka dia tidak dicintai. (HR. Muslim)

Dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan landasan dasar dan metode yang universal dalam mendidik anak. Penyampaian aqidah sebagai awal pendidikan yang disampaikan Luqman kepada buah hatinya, juga kasih sayang para nabi kepada anaknya semua terekam dalam Al-Qur’an. Sehingga tak heran jika kemudian Allah juga menekankan pentingnya ketaatan anak kepada orang tua, serta berbuat baik dan menghormati keduanya. Itu semua adalah hubungan timbal balik yang berhak didapat orang tua yang mendidik anaknya dengan penuh kemuliaan.

Lalu bagaimana dengan orang tua yang alakadarnya dalam mendidik anak, tidak memperhatikan nilai kasih sayang, moral, apalagi bekal keimanan? Anehkah jika Allah membalas doa anak untuk orang tuanya dengan kasih sayang yang alakadarnya juga, karena isi doa sang anak adalah “Ya Allah, kasihilah orang tuaku sebagaimana ia menyayangiku di waktu kecil”?

Rancang Rumah Tangga Islami Sejak Awal

Ibnul Qoyyim ra mengatakan, “Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orangtuanya.”

Bekalan nilai-nilai Islam yang ditanamkan sejak dini kepada anak akan menjadi tameng baginya untuk tidak melakukan kezaliman, bahkan melindungi anak dari aniaya orang lain. Keluarga yang konsisten menerapkan nilai-nilai Islam dalam kondisi carut marut seperti sekarang, berarti telah menjadi pemutus mata rantai kezaliman terhadap anak (lihat Tafsir Hadits). Amirul Mukminin Ali ra memberikan teladan, “Ajarilah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian kebaikan dan bimbinglah mereka.”

Karena itu, untuk melahirkan pribadi yang kuat dan mampu memberi kekuatan kepada orang lain, semua harus dilihat dari awal persiapan pembentukan rumah tangga.

Proses mencari pasangan hidup, tentu menjadi tema awal yang harus diperhatikan. Menurut Ustadz Syahrul Syah, proses ini sangat menentukan kualitas keturunan. “Makanya jangan mengawali rumah tangga dengan zina,” tegasnya. Bagaimana mungkin, jelas Ustadz Syahrul, bisa mendapatkan anak yang bagus kalau diawali dengan cara yang tidak bagus, misalnya hamil di luar nikah.

Kemudian, saat mengandung, ibu pun dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an, bersenandung lagu-lagu Islam, berzikir. Intinya, melakukan perbuatan-perbuatan yang mendekatkan dirinya pada Allah. “Kalau  yang didengar janin itu suara-suara yang baik, suara keimanan, insya Allah sang anak akan lahir benar-benar bersih,” tambahnya.

Ustadz yang kerap menjadi juri dan penceramah di berbagai acara teve ini pun menyitir sabda Rasulullah saw, “Didiklah anak-anakmu dengan tiga hal; cinta nabi, cinta pada keluarga, dan cinta membaca Al-Qur’an.

Keutamaan Mencari Nafkah Untuk Keluarga

Bicara tentang mencari nafkah, tentu kita ingin mencari nafkah yang banyak dan berkah, betul tidak?. Tetapi ada hal – hal yang perlu kita ketahui yaitu keutamaan mencari nafkah bagi suami. Keutamaan mencari nafkah bagi suami amatlah luar biasa. Ketika suami pergi di pagi hari dan pulang di malam hari untuk mencari nafkah insya Allah akan Allah balas setiap keringat yang menetes karena lelahnya dengan pahala yang besar. Sungguh tak ada amalan yang sia-sia jika benar diniatkan karena Allah dan sesuai dengan petunjuk-Nya.

Ath-Thabarani meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata, “Tatkala kami (para sahabat) duduk-duduk di sisi Rasulullah Saw, tiba-tiba ada seorang pemuda yang keluar dari jalan bukit. Ketika kami memperhatikannya, maka kami pun berkata, “Kalau saja pemuda ini menggunakan kekuatan dan masa mudanya untuk jihad di jalan Allah!”  Mendengar ucapan para sahabat itu, Rasulullah Saw bersabda: “Memangnya jihad di jalan Allah itu hanya yang terbunuh (dalam perang) saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya, maka dia di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia di jalan thaghut.” (HR Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath).

Lalu apa saja Keutamaan Mencari Nafkah Untuk Keluarga kita? Berikut 5 keutamaan mencari nafkah bagi suami:

Pertama, Berlimpah Pahala jika Niatnya Benar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari no. 56).

Keutamaan mencari nafkah yang pertama ialah suami akan mendaptkan pahala yang berlimpah, jika diniatkan dengan ikhlas semata karena Allah. Namun jika apa yang suami lakukan hanyalah untuk sebuah rutinitas biasa, yakni hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban suami dalam memberi nafkah tanpa disertai niat yang ikhlas karena Allah, maka belum tentu akan berbuah pahala. Sebab pahala akan tergantung dengan niatnya.

Kedua, Allah akan Ganti dengan Harta yang Lebih Baik

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah para hamba berpergi hari di dalamnya melainkan ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang senang berinfak.” Yang lain mengatakan, “Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang pelit.” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010).

Mencari nafkah bagi suami untuk keluarganya termasuk kedalam berinfak, sehingga termasuk dalam keutamaan hadits ini. Yakni, Allah akan menjadikan harta yang dikeluarkannya itu dengan barokah yang berlimpah dan menggantikan setiap harta dengan ganti yang lebih baik. Inilah salah satu keutamaan mencari nafkah bagi suami yang Allah berikan.

Ketiga, Menafkahi Keluarga lebih Utama dari Sedekah

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim no. 995).

Memberi nafkah untuk keluarga itu lebih utama dari sedekah yang hukumnya sunnah, ini karena kewajiban suami yang utama itu terletak pada keluarganya. Suami memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Keempat, Mencari Nafkah termasuk Sedekah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Harta yang dikeluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu. Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah,” (H.R. Ahmad).

Keutamaan mencari nafkah bagi suami yang selanjutnya adalah setiap nafkah yang diberikan kepada keluarga akan bernilai sedekah. Allah telah menjanjikan bahwa pahala dari sedekah itu berlimpah, insya Allah.

Kelima, Mencari Nafkah adalah Tanggung Jawab Suami

Dalam riwayat Ibnu Hibban disebutkan,

Allah akan bertanya pada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin, apakah ia memperhatikan atau melalaikannya,” (H.R. Ibnu Hibban).

Setiap suami memikul tanggung jawab atas keluarga yang dipimpinnya, termasuk mengenai kebutuhan keluarganya. Apakah suami memperhatikan kebutuhan keluarganya dengan baik atau justru melalaikannya. Maka sudah menjadi tanggung jawab suami untuk memberi nafkah keluarganya sebagai bentuk tanggung jawab yang mereka emban. Insya Allah ini akan berbuah pahala, sebagaimana yang telah Allah janjikan sebagai keutamaan mencari nafkah bagi suami.